Announcement:

Free Blogger Cafe's Template will be Available Soon for Download

Monday, December 21, 2020

5 Gangguan Kesehatan karena Kebanyakan Minum Kopi

Merasa cemas dan gangguan pencernaan karena kebanyakan minum kopi? 

Kopi merupakan salah satu sumber kafein yang dipilih untuk menambah semangat dan produktivitas seseorang. Terlebih bila pekerjaan sedang menumpuk, dan kita nyaris tak bisa istirahat. 

Alhasil, kopi seperti sahabat baik di setiap harinya. Namun perhatikan lagi, apakah asupan kopi sudah berlebihan.

Dirangkum Popmama.com, inilah tanda bahwa kita sudah terlalu banyak minum kopi. 

1. Merasa cemas dan gugup

Melansir dari Mayo Clinic, asupan maksimal kafein per hari untuk seseorang dengan kesehatan yang normal adalah 400 mg. Itu setara dengan 4 gelas kopi.

Sedangkan jika berlebihan, maka bisa menimbulkan efek cemas dan gugup. Pada dasarnya, kafein bergungsi untuk meningkatkan kewaspadaan. 

Saat tubuh tidak bisa menerima lebih banyak lagi, maka kafein bisa memperparah rasa cemas dan berujung tidak bisa tidur meskipun mata sudah sangat lelah. 


2. Jantung terasa berdebar

Kafein juga bisa memicu peningkatan detak jantung. Ini disebabkan karena kafein dalam kopi memicu pelepasan hormon norepinefrin yang menghasilkan efek stimulasi yang mirip dengan adrenalin. 

Jika kopi terlalu banyak dari yang biasa dikonsumsi sehar-hari, maka bisa terjadi fibrilasi atrium atau perubahan irama detak jantung. 

Saat kamu bisa merasa jantung berdetak terlalu cepat dan debarnya teralu berasa, berarti itu salah satu tandanya. Biasanya efek ini dibarengi dengan sakit kepala mirip vertigo dan berujung pingsan. 


3. Merasa kembung dan sebah

Kafein dalam kopi bisa meningkatkan produksi asam pada lambung dan membuat peradangan di lambung. Kafein juga bisa membuat cincin otot kerongkongan rileks pada bagian bawah. 

Efeknya, asam lambung bisa naik sampai ke kerongkongan seperti pada penderita asam lambung. Yang dirasakan adalah kembung, sebah, dan sakit di ulu hati. 

Terlebih jika Mama memiliki riwayat penyakit maag, minum kopi terlalu banyak bisa membuat gangguan pada lambung. Pemanis buatan yang ada di dalam kopi bisa memperparah keadaan ini, lho. 


4. Mengalami diare

Asam pada kopi menyebabkan peningkatan produksi pada empedu di tubuh. Kopi membuat kantung empedu melepaskan empedu ke dalam usus. Inilah pemicu kenapa kopi bisa membuat seseorang merasa ingin buang air besar. 

Jika dikonsumsi secara berlebihan, maka bisa sampai berujung diare. 


5. Merasa sakit kepala 


Minum Kopi, Deteksi COVID-19

Kopi tidak hanya dinikmati rasanya, tetapi juga aromanya yang kuat. Karena aromanya itu, kini kopi dijadikan sebagai alat pendeteksi COVID-19 oleh para ilmuwan.

Minum kopi di pagi hari memang sudah menjadi gaya hidup. Tidak hanya sekadar minuman, kopi juga memiliki khasiat untuk kesehatan tubuh. Salah satunya dapat membangkitkan energi.

Dan baru-baru ini, kopi dijadikan sebagai alat pendeteksi COVID-19 oleh para ilmuwan. Itu dikarenakan kopi memiliki aroma yang begitu kuat. Mengingat matinya indra penciuman dan perasa merupakan gejala seseorang terkena COVID-19.

Gejala seperti itu dikenal juga dengan sebutan anosmia. Apalagi sekarang ini banyak Orang Tanpa Gejala (OTG) sulit mengetahui apakah dirinya terpapar virus corona atau tidak, lapor Daily Coffee (14/12).

Untuk menangani hal tersebut, para ilmuwan sensorik dan ahli epidemiologi penyakit menular telah mengembangkan program skrining dan pengujian yang berkaitan dengan indra penciuman sebagai tanggapan terhadap virus corona.

Awalnya, para ilmuwan khawatir bahwa penyakit itu mungkin telah memengaruhi neuron yang menyebabkan koneksi penciuman terancam. Meskipun tampaknya, penyakit ini hanya memengaruhi lapisan sel di hidup yang dapat pulih dalam waktu sekitar 14 hari.

Salah seorang ilmuwan, Profesor James Schwob dari Fakultas Kedokteran Universitas Tufts mengatakan bahwa cara mendeteksi COVID-19 menggunakan kopi sangat mudah.

"Caranya sangat mudah, secara obyektif oleh seseorang di rumah adalah mengambil kopi bubuk dan melihat seberapa jauh kamu dapat menciumnya," ujar Profesor James Schwob.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Richard Doty, Direktur Smell and Taste Center di Fakultas Kedokteran Universitas Pennsylvania. Menurutnya, jika seseorang tak bisa mencium kopi, kemungkinan ia mengalami anosmia.

"Saat kamu mengunyah makanan, molekul naik melalui tepi rongga hidung untuk mencapai reseptor penciuman di bagian atas hidung," ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa kopi dan cokelat merupakan makanan yang memiliki rasa dan aroma yang kuat. Maka, kalau ada seseorang yang tak bisa merasakan itu perlu dipertanyakan.

Cara mendeteksi COVID-19 dengan kopi ini juga pernah dilakukan oleh seorang ibu. Diceritakan saat suatu sore, ibu itu membuat secangkir kopi hanya untuk membuktikan bahwa ia tidak dapat mencium dan merasakannya.

"Dia telah mendengar putrinya tentang anosmia terkait gejala COVID-19, jadi dia mencoba dengan mencium semprotan pembersih beraroma pinus dan tidak bisa mencium baunya," ujar Profesor Ilmu Pangan, Penn State dan Cara Exten, Asisten Profesor Epidemiologi, Penn State John E. Hayes.

Dengan itu, ibu tersebut lantas melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Itulah mengapa para ilmuwan mendorong semua orang untuk aktif mencoba mencium sesuatu setiap hari.

Anosmia tiba-tiba yang tidak dapat dijelaskan adalah gejala spesifik COVID-19. Para ilmuwan mengatakan bahwa minum kopi dapat digunakan sebagai alat skrining rumahan harian terhadap COVID-19.


Minum Kopi Sebelum Makan?

Secangkir kopi di pagi hari sebelum sarapan mungkin terlihat sederhana. Namun, kebiasaan ini ternyata bisa berdampak negatif untuk tubuh. Kopi sebelum sarapan ternyata dapat mengganggu kadar gula darah.

Menurut sebuah studi baru dalam The British Journal of Nutrition, dilansir laman Eat This, Senin (21/12), jika mengonsumsi kafein pagi hari sebelum sarapan, dapat berdampak negatif terhadap kadar gula darah. Pada akhirnya hal ini akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Studi yang dilakukan oleh ahli fisiologi di Pusat Nutrisi, Latihan & Metabolisme di Universitas Bath Inggris itu berfokus pada sekitar 30 orang sehat yang menjalani tiga eksperimen berbeda. Pertama, peserta memiliki tidur malam yang normal dan kemudian mengonsumsi minuman manis di pagi hari.

Minuman manis mencerminkan apa yang biasanya dikonsumsi untuk sarapan, menurut catat penulis penelitian. Kedua, peserta mengalami tidur malam yang terganggu, di mana mereka terbangun selama lima menit setiap jam di malam hari. Kemudian diberi minuman yang sama.

Di kelompok ketiga, peserta mengalami gangguan malam di tempat tidur. Namun, diberi kopi hitam kental 30 menit sebelum mengonsumsi minuman yang mewakili sarapan.

Dalam ketiga skenario tersebut, para peneliti memantau kadar glukosa darah para partisipan. Setelah itu, mereka menemukan bahwa tidur nyenyak di malam hari tidak serta merta memengaruhi kadar glukosa darah dan respons insulin peserta.

Hasilnya cukup mengejutkan karena kebanyakan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan kerusakan pada sistem metabolisme tubuh respons insulin. Namun, ketika peserta penelitian meminum kopi sebelum sarapan, kadar gula darah mereka melonjak hingga 50 persen.

"Sederhananya, kontrol gula darah kita terganggu ketika hal pertama yang bersentuhan dengan tubuh kita adalah kopi, terutama setelah tidur malam yang terganggu," tulis James Betts, Profesor Fisiologi Metabolik di Universitas Bath dan Ketua Departemen untuk Komite Etik Penelitian Kesehatan.

Sebaiknya, hindari langsung minum kopi di pagi hari sebelum sarapan. Sebaliknya, jika makan dulu baru kemudian minum kopi jika mengiinginkannya, tidak akan terlalu jadi masalah.

"Kami tahu bahwa hampir separuh dari kita akan bangun di pagi hari dan, sebelum melakukan hal lain, minum kopi secara intuitif semakin kita merasa lelah, semakin kuat kopinya,” lanjutnya.

Penelitian ini penting dan memiliki implikasi kesehatan luas. Tetapi yang jelas, meraih kopi sebelum sarapan terbukti tidak akan baik.


Copyright @ 2014 econazt - FREE BLOGGER CAFE. Designed by BLOGGER CHILI Published By Gooyaabi Templates